Narcissus

Posted: July 4, 2012 in motivasi

Konon pernah ada dalam cangkungan telaga sebuah hutan di Yunani. Dan ke telaga itu, setiap pagi seorang lelaki berkunjung. Dia berlutut di tepinya, mengagumi bayangannya yang terpantul di permukaan. Dia memang tampan. Garis dan lekuk parasnya terpahat sempurna. Matanya berkilau. Alis hitam dan cambang di wajahnya berbaris rapi, menjadi kontras yang menegaskan kulit putihnya.

Lelaki itu, kita tahu, Narcissus. Dia tak pernah berani menjamah air telaga. Dia takut citra indah yang dicintainya itu memudar hilang ditelan riak. Konon, dia dikutuk oleh Echo, peri wanita yang telah dia tolak cintanya. Dia terkutuk untuk mencintai tanpa bisa menyentuh, tanpa bisa merasakan, tanpa bisa memiliki. Echo meneriakkan laknatnya di sebuah lembah, menjadi gema dan gaung yang hingga kini diistilahkan dengan namanya.

Maka di tepi telaga itu Narcissus selalu terpana dan terpesona. Wajah dalam air itu mengalihkan dunianya. Dia lupa pada segala hajat hidupnya. Kian hari tubuhnya melemah, hingga satu hari dia jatuh dan tenggelam. Alkisah, di tempat dia terbenam, tumbuh sekuntum bunga. Orang-orang menyebutnya kembang itu, narcissus.

Selesai.

Tetapi Paulo Coelho punya anggitan lain untuk kisah Narcissus. Dalam karyanya The Alchemist, tragika lelaki yang jatuh cinta pada dirinya sendiri itu diakhiri dengan lebih memikat. Konon, setelah kematian Narcissus, peri-peri hutan datang ke telaga. Airnya telah berubah dari semula jernih dan tawar menjadi seasin air mata.

“Mengapa engkau menangis?” tanya para peri.

Telaga itu berkaca-kaca, “Aku menangisi Narcissus,” katanya.

“Oh, tak heranlah kau tangisi dia. Sebab semua penjuru hutan selalu mengaguminya, namun hanya kau yang bisa mentakjubi keindahannya dari dekat.”

“Oh, indahkah Narcissus?”

Para peri hutan saling memandang. “Siapa yang mengetahuinya lebih daripadamu?” kata salah seorang. “Di dekatmulah tiap hari dia berlutut mengagumi keindahannya.”

Sejenak hening menyergap mereka. “Aku menangisi Narcissus,” kata telaga kemudian, “Tapi tak pernah kuperhatikan bahwa dia indah. Aku menangis karena, kini aku tak bisa lagi memandang keindahanku sendiri yang terpantul di bola matanya tiap kali dia berlutut di dekatku.”

~~~ )|( ~~~

Setiap kita punya kecenderungan untuk menjadi Narcissus. Atau telaganya. Kita mencintai diri ini, menjadikannya pusat bagi segala yang kita perbuat dan semua yang ingin kita dapat. Kita berpayah-payah agar ketika manusia menyebut nama kita yang mereka rasakan adalah ketakjuban pada manusia paling memesona. Kita mengerahkan segala daya agar tiap orang yang bertemu kita merasa telah berjumpa dengan manusia paling sempurna.

Kisah tentang Narcissus menginsyafkan kita bahwa setinggi-tinggi nilai yang kita peroleh dari sikap itu adalah ketakmengertian dari yang jauh dan abainya orang dekat. Kita menuai sikap yang sama dari sesame, seperti apa yang kita tabur pada mereka. Dari jaraknya, para peri memang takjub, namun dalam ketidaktahuan. Sementara telaga itu hanya menjadikan Narcissus sebagai sarana untuk mengagumi bayangannya sendiri. Persis sebagaimana Narcissus memperlakukannya. Pada dasarnya, tiap-tiap jiwa hanya takjub pada dirinya.

Tetapi ‘Amr ibn al-‘Ash merasakan ketiadaan sikap ala Narcissus pada seorang Muhammad, lelaki yang sesampai di surgapun masih menjadikan diri pelayan bagi ummatnya. ‘Amr telah belasan tahun menjadikan silat lidahnya sebagai senjata paling mematikan bagi da’wah Sang Nabi. Lalu setelah hari Hudaibiyyah yang menegangkan itu, hidayah menyapanya. Dia, bersama Kholid ibn al-Walid dan ‘Utsman ibn Tholhah menuju Madinah menyatakan keislaman. Mereka disambut senyum Sang Nabi, dilayani bagai saudara yang dirindukan, dimuliakan begitu rupa.

Bagaimanapun, ‘Amr merasa hanya dirinya yang istimewa. Itu tampak dari sikap, kata-kata, dan perlakuan Sang Nabi padanya. Hari itu dia merasa Sang Rosul pastilah mencintainya melebihi siapapun, mengungguli apapun. Pikirnya, itu disebabkan bakat lisannya begitu rupa yang kelak bermanfaat bagi da’wah. Terasa sekali. Maka dia beranikan diri meminta penegasan. “Ya Rosululloh,” dia berbisik ketika kudanya menjajari tunggangan Sang Nabi, “Siapakah yang paling kau cintai?”

Sang Nabi tersenyum. “’Aisyah,” katanya.

“Maksudku,” kata ‘Amr, “Dari kalangan laki-laki.”

“Ayah ‘Aisyah.” Rosululloh terus saja tersenyum padanya.

“Lalu siapa lagi?”

“’Umar.”

“Lalu siapa lagi?”

“’Utsman.” Dan beliau terus tersenyum.

“Setelah itu,” kata ‘Amr berkisah di kemudian hari, “Aku menghentikan pertanyaanku. Aku takut namaku akan disebut paling akhir.” ‘Amr tersadar, apalagi sesudah berbincang dengan Kholid dan ‘Utsman, bahwa Muhammad adalah jenis manusia yang membuat tiap-tiap jiwa merasa paling dicinta dan paling berharga. Dan itu bukan basa-basi. Muhammad tak kehilangan kejujuran saat ditanya.

Nabi itu indah dan menakjubkan memang. Tapi yang paling menarik dari dirinya adalah bahwa berada di dekatnya menjadikan setiap orang merasa istimewa, merasa berharga, merasa memesona. Dan itu semua tersaji dalam ketulusan yang utuh.

“Mukmin yang satu”, kata Sang Nabi, “Adalah cermin bagi mukmin yang lain.”

Bercerminlah, tetapi bukan untuk takjub pada bayang-bayang seperti Narcissus, atau telaganya. Menjadikan sesama peyakin sebagai cermin berarti melihat dengan seksama. Lalu saat kita menemukan hal-hal yang tak berkenan di hati dalam bayangan itu, kita tahu bahwa yang harus kita benahi bukanlah sang bayang-bayang. Kita tahu, yang harus dibenahi adalah diri kita yang sedang mengaca. Yang harus diperbaiki bukan sesama yang kita temukan celanya, melainkan pribadi kita yang sedang bercermin padanya.

Itu saja.

Dinukil dari prolog buku Dalam Dekapan Ukhuwah karya Salim A. Fillah

 

Kesetiaan Subuh

Posted: June 20, 2012 in Kisah iseng

Ketika Tuhan membagi waktu menjadi pagi,siang,sore, dan malam hari, hanya subuh yang memdapatkan waktu paling pendek, setengah jam. Akan tetapi subuhlah yang memulai semua proses. Subuh menikmati waktunya dengan menghadirkan keindahan dan kehidupan yang tidak bisa diberikan oleh pagi, siang, sore, dan malam. Subuh menampilkan warna langit paling indah sebelum matahari kembali ke panggung waktu. Subuh menurunkan setetes embun ke atas tana, dan dengan embun itu tanah bisa memekarkan setangkai bunga, lalu dengan setangkai bunga itu ia bisa menghidupi seekor lebah, dengan seekor lebah itu bisa membuat sesendok madu, lalu dengan sesendok madu seseorang bisa memulai aktifitas dengan energi yang cukup.

Dengan energi yang cukup, orang bisa menyisihkannya untuk menganugerahkan cinta kepada orang lain yang dikasihinya. Lalu dengan cinta yang ada, setiap manusia di muka bumi bisa bergandengan tangan dengan damai, saling menyayangi dalam keindahan dan aturan, saling menghargai dan tidak perlu ada perang yang membunuh umat manusia. Bisa kita bayangkan manfaat setetes embun?”

Dan semua itu berawal dari kesetiaan subuh menghadirkan kehidupan di dunia ini.

Apalah gunanya pagi bila subuh tidak ada? Subuh menerima waktu sempitnya dengan memberikan keindahan tak terbayangkan oleh seluruh makhluk hidup yang ada di dunia ini. Jika ingin belajar tentang kesetiaan, belajarlah pada subuh.

 

 Dikutip dari novel “The Khilafa”

Wahai Ibuku

Posted: December 23, 2011 in catatan curhat

Di saat aku masih berada di pangkuan ibuku, dan di saat aku dalam dekapannya, dialah satu-satunya orang yang meneteskan air mata, air susu, dan darah demi diriku. Semua orang melupakanku kecuali ibuku. Seluruh alam berubah kepadaku kecuali ibuku. Wahai ibuku sayang, berapa kali engkau bersihkan pipimu dengan air mata tatkala aku berpergian? Berapa kali engkau tidak nyenyak tidur dikala aku tidak ada di rumah? Dan berapa kali engjau menjauhi ranjang tidurmu dikala aku sedang sakit?

Wahai ibuku sayang, disaat aku datang dari berpergian, engkau berdiri di depan pintu menunggu dn kedua matamu meneteskan air mata kebahagiaan. Di kala aku pergi dari rumah, engkau berdiri di depan pintu melepas kepergiaanku dengan hati yang tersulam kesedihan. Wahai inuku yang tercinta, engkau menggendongku diantara tulang rusukmu di hari-hari yang syarat kepedihan dan kelaparan. Engkau melaahirkanku bersamaan dengan rintihan dan nafas-nafas panjangmu. Engkau memelukku dengan ciuman dan senyuman.

Oh ibuku sayang, engkau tidak akan tidur sebelum kelelapan tidur berkunjung di kedua kelopak mataku, dan engkau tidak tahu apa sebabnya. Engkau tidak akan merasakan ketenangan sebelum kebahagiaan menyelimutiku. Jika aku tersenyum maka engkau tertawa bahagia, dan engkau tidak tahu apa sebabnya. Jika aku sedang sakit, engkau menumpahkan air mata, sedangkan engkau tidak tahu mengapa bisa demikian. Engkau telah memberikan maaf kepadaku sebelum aku melakukan kesalahan. Engkau melapangkan hatimu sebelum aku meminta maaf.

Wahai ibuku tercinta, siapapun yang memujiku pasti engkau memercayainya. Dan barang siapa yang menghinaku maka engkau tidak akan memercayainya, meskipun dia mengajukan saksi yang adil dan bukti yang terpecaya. Memang, engkaulah satu-satunya orang yang selalu memikirkan keadaanku. Dan hanya engkaulah yang selalu memerhatikanku. Wahai ibu, akulah yang menjadi permasalahan terbesarmu, kisahmu yang paling indah, dan harapanmu yang menjulang. Ngkau berusaha menjadikanku yang terbaik, engkau memaafkan kesalahan diriku, engkau mengikatku dengan kerinduan, dan engkau berharap kesuksesan selalu menyertaiku.

Wahai ibu, andai saja aku bisa membasuh telapak kakimu dengan air mata keikhlasan. Andai saja kematian yang mendatangimu dapat aku alihkan kepadaku, dan andaikan kesedihan yang menimpamu dapat aku pikul.

Hatiku berkata bahwa engkau sedang dirundung kesedihan

Engkau tahu atau tidak, nyawaku sebagai tebusan

Allah swt berfirman

“Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu, dan bapakku…..” (Nuh:28)

“…dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihinilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (Al-Isra:24)

Penulis : Dr.Aidh Al-Qarni

Perhiasan dunia

Posted: November 5, 2011 in catatan curhat

Ehmmm….walaupun menurut sebagian orang tidak cantik, tapi bagiku wanita yang mengenakan jilbab -yg sesuai syari’at- tetap enak untuk dipandang. Kini aku mengerti mengapa istri yang shalehah itu adalah perhiasan dunia.  Sayangnya islam melarang kita untuk memandanginya lama-lama kalau belum halal. Namun, disinilah letak keindahan dan keadilan Allah swt.

Dan sekarang aku mengerti mengapa kita harus memilki seorang istri yang memakai jilbab. Karena itu semua untuk kebaikan kita juga. Seorang istri yang telah menggunakan jilbab, berarti dia telah patuh terhadap perintah Allah swt, berarti dia Mencintai Allah swt karena dia patuh akan perintahNya untuk mengenakan jilbab. Bayangkan, perintah Allah saja ditaati, apalagi perintah suaminya, tentunya ia pun akan menaati perintah suaminya –selama tidak menyuruh pada kemaksiatan-. Dan menaati suami pun bagi para istri merupakan perintah Allah swt. Seorang istri yang menaati perintah Allah pasti menaati perintah suaminya.

Seorang sahabat pernah menuturkan bahwa wanita itu seindah mutiara yang begitu indah dengan keanggunannya dan membuat siapa saja ingin memilikinya. Seseorang harus menyelam sampai dasar lautan untuk mendapatkannya. Ia tersimpan kuat dalam cangkangnya. Belum pernah ada yang menjamahnya, melihatnya apalagi myentuhnya. Hanya orang-orang yang memiliki kesungguhan hati saja yang bisa memiliki pesonanya. Dan sejatinya memang seperti itulah wanita, seindah mutiara.

Semoga kita bisa mendapatkan mutiara itu, bisa memiliki perhiasan dunia yang terindah, yaitu istri yang shalehah.

Yaa Allah…

Jika nanti aku bertemu dengan seseorang dan aku jatuh cinta padanya,

Jadikanlah aku yang terbaik untuknya dan dia yang ternbaik untukku.

Berikan dan Terimalah

Posted: November 5, 2011 in Kisah Nasruddin Hoja

Pejabat yang menjadi hakin di tempat Nasruddinmemang terkenal sebagai pejabat yangdoyan suap. Karenanya tidak heran kalau dia cepat kaya sekaligus juga sangat kikir. Suatu sore, saat melewati tepian sungai untuk pulang ke rumahnya, si pejabat itu tergelincir dan jatuh ke sungai.

Nasruddin dan beberapa kawannya yang kebetulan tengah berada di tepian sungai itu segera saja beranjak untuk menolong. Seorang kawan Nasruddin membungkuk ke tepi sungai dan mengulurkan tangannya.

“Berikanlah tanganmu,” kata si kawan Nasruddin, ”nanti kau akan kutarik ke atas.”

Tetapi si pejabat tersebut hanya diam saja dan tak memberikan tanganya seperti yang diminta.”Kau keliru,” Ujar Nasruddin kepada kawannya itu. “Orang yang kau tolong itu seorang pejabat. Dia tidak terbiasa dengan ucapan ‘berikan’. Sekarang lihat caraku menyelamatkannya…”

Lalu Nasruddin membungkuk ke tepi sungai dan berkata, “Terimalah tanganku, nanti kau akan kutarik ke atas.”

Kali ini si pejabat mengulurkan tangannya, dan Nasruddin pun mengangkatnya ke atas.

 

sumber : 101 kisah Nasruddin Hoja

Maaf..!! kesendirianku saat ini bukanlah dikarenakan diriku yang tak laku-laku, tapi justru karena ku telah memiliki pendamping hidup yang telah Allah siapkan. Allah telah menyiapkan salah satu bidadarinya sebagai pemilik tulang rusukku, dan tulang rusuk itu tidak pernah tertukar. Dia hanya akan dimiliki oleh pemiliknya.

Kesendirianku ini adalah penantian panjang dalam persiapan menuju pertemuan suci dalam ikatan yang diridhai Allah, yaitu pernikahan. Pernikahan adalah hal yang suci, jadi harus diawali dengan kesucian bukan dengan kemaksiatan yang kita kenal dengan sebutan “pacaran.”

Maaf…!! Kesendirianku saat ini bukanlah dikarenakan aku seorang yang pengecut, yang hanya bisa memendam cinta tanpa teruai dalam kata-kata. Tapi karena diriku bukanlah penipu cinta yang mudah mengatakan “aku cinta kamu”. Aku bukan pejantan tangguh yang dengan lantang mengatakan aku cinta kamu, padahal belum sanggup untuk menikah. Hal seperti itu hanya menunjukan penipuan di balik cintanya, karena tidak ada bukti nyata di balik itu semua. Inilah alas an mengapa aku selalu membisu dalam cinta.

Tapi, jika kau berkata bahwa kesendirianku ini dikarenakan wajah yang kurang tampan, atau penampilan yang norak dan sebagainya. Aku malah merasa amat bersyukur akan hal itu. Allah telah menjaga dan melindungiku dari perbuatan-perbuatan yang mendekati zina. Bagaimana tidak dikatakan sebagi perbuatan yang mendekati zina? Ketika orang berpacaran, setiap tatapannya mengandung dosa, setiap sentuhan mengandung dosa, berdua-duaan apalagi. Jadi, aku bersyukur di balik ketidaktampananku ada ada perlindungan dari Allah.

Tapi, yang perlu diperhatikan disini adalah sesungguhnya bahwa tampang bukanlah satu-satunya factor untuk kita menemukan pendamping hidup. Pernikahan adalah ibadah, tentunya akan sangat merepotkan bagi orang-orang yang memiliki wajah yang tidak tampan/cantik untuk beribadah. Dan Allah tidak mungkin menyusahkan hamba-hambaNya yang mau beribadah. Allah tidak penah memandang hambaNya dari wajahnya, tapi Allah melihat hambaNya dari ketaqwaannya.

Lagi pula, jelas sudah janji Allah dalam surah An-nur:26 :

 “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).”

Dalam surah tersebut Allah berjanji bahwa yang wanita baik untuk lelaki yang baik, begitupun sebaliknya. Allah tidak bejanji bahwa lelaki yang tampan untuk wanita yang baik, atau wanita yang cantik untk lelaki yang tampan. Disini yang menjadi prioritas bukanlah tampang yang rupawan atau cantik menawan melainkan akhlak yang baik. Jika boleh sedikit mengutip perkataan dari Parlindungan Marpaung dalam bukunya -setengah isi-setengah kosong- bahwa “Bukan titik yang menyebabkan tinta, melainkan tinta yang menybabkan titik. Bukan CANTIK yang menyebabkan CINTA, melainkan CINTA yang menyebabkan CANTIK.

Janji Allah itu pasti, bahwa “wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Jadi, tidak akan kita mendapatkan pasangan yang baik kalau diri kita masih tidak baik. Dan jangan pernah mengharapkan akan datangnya orang yang istimewa, kalau kita tidak membuat diri ini istimewa.

Maaf..!! aku tak peduli dan tak tertarik sedikit pun tentang definisi cinta yang kau banggakan. Cukuplah bagiku mencintai Allah dengan sepenuh hatiku.

Menjadi Majikan Cinta

Posted: October 17, 2011 in catatan curhat

Ketika asik menjelajahi menjelajahi facebook, aku tertarik oleh sebuah catatan yang baru di posting salah satu temanku. Dalam catatannya ia menulis seperti ini, “ kuakui hatiku hanya untukmu, walau kadang tak selalu sempurna, namun tak seorangpun dapat menggantika pahit dan manis cerita kita.”

Membaca catatan seperti itu, spontan tangan ini gatal ingin mengomentari dan tak butuh waktu lama, munculah akunku dalam catatan itu dengan komen “Leeeeebbbbaaaayyyyy, Al4y Abab1l”.

“2 menit kemudian”

Munculah komen-komen balasan dari mereka –temanku dan pasangannya- seperti ini :

Cewenya : sirik yeee

Cowonya : bebbs@biarkan mereka berbicara apapun tentang kita

Cewenya : Ia bebbs anggap aja benalu

Cowonya : lumut ijooo

Melihat komen-komen mereka yang seperti itu, tak tertarik buatku untuk mengusik keindahan dua sejoli dalam naungan cinta menurut versi mereka.

“1 bulan kemudian”

Latar tempat kejadian perkara masih di situs jejaring social facebook, kali ini aku melihat status si cowo -yg nganggap w lumut ijoo- dengan kata-kata dan tulisan perasaan yang sangat mengecewakan –alay dan repotnya orang yang berpacaran- dan disana ku melihat komen dari si cewenya –yg bilang w benalu itu- bertuliaskan,” elooo adalah orang yang bikin 9w bner2 sakit.”

Itulah sedikit dari banyaknya fragmen cinta-cinta semu anak muda jaman sekarang. Dimana banyak dari mereka yang terjebak dalam semunya cinta. Mereka yang seharusnya menjadi panglima untuk cinta, malah menjadi budak dari cintanya sendiri.

Aku bersyukur bahwa diriku bukanlah seorang pejantan tangguh yang lantang bicara dihadapan wanita bahwa aku cinta kamu, padahal aku belum mampu menikah. Karena jika itu yang aku lakukan, aku hanyalah member janji dari balik cintaku, tanpa adanya buktidari itu semua.

Sebenarnya wajar seseorang itu jatuh cinta, bukan karena mereka pemuda atau pemudi, tapi karena mereka meiliki hati. Dan itu sejatinya adalah fitrah manusia. Dan islam bukanlah agama yang bertentangan dengan fitrah manusia. Islam tidak mengharamkan cinta sehingga kita tidak boleh menikah. Islam pun tidak membebaskan cinta seperti yang terjadi di Negara-negara barat. Tapi islam membolehkan cinta dengan dan dalam ikatan yang suci yaitu pernikahan.

Kita pun tidak bisa menolak cinta, dia bisa datang kapan pun, di mana pun, kepada siapa pun. Yang bisa kita lakukan adalah mengendalikan dan menjaga cinta itu agar kita tidak menjadi budak cinta. Jangan sampai cinta kita kepada makhluk melebihi cinta kita kepada Allah swt dan RasulNya.

Sebagaimana firman Allah swt dalam surat At-taubah:24

Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

Jangan sampai cinta yang Allah anugerahkan kepada kita malah membuat kita menjauh dariNya. Sebagai pejuang, kita harus menjadi majikan cinta, bukan budaknya. Kita harus mampu mengendalikan nafsu dan perasaan, bukan dikendalikannya. Sungguh indah bila mana cinta dan nafsu itu ditunggang dengan keimanan yang tiada tara kepada Allah dan RasulNya.

Dan semoga kita bisa, mendapatkan yang terbaik, dipilih Allah untuk menjadi teman di dunia untuk berjuang dalam agamanya dan akhirat menjadi ketua bidadari bagi seorang lelaki penghuni syurga.

Buku Kebijaksanaan

Posted: October 17, 2011 in Kisah Nasruddin Hoja

Nasruddin Hoja diundang oleh seorang tetangganya untuk menghadiri acara pernikahan purtinya. Satu tahun yang lalu, Nasruddin juga pernah diundang oleh tetangganya tersebut dan dia kehilangan sepatunya. Karenanya, kali ini Nasruddin pun tidak berani meninggalkan sepatunya di luar seperti tahun lalu, dan memilih untuk menyimpanya di balik bajunya.

Nasruddin pun masuk ke ruang pertemuan dan duduk di dekat seorang laki-laki yang kuga dari kampungnya. Karena meihat tonjolan di balik jubah Nasruddin si lelaki itu pun bertanya,”Apa yang ada di balik jubahmu itu? Apakah sebuah buku yang hebat?”

Uh, untung saja aku dikenal sebagai kutu buku, piker Nasruddin. Maka dengan keras Nasruddin pun menjawab,”Iya, tonjolan yang kau lihat ini memang Buku Kebijaksanaan.”

“Oh, itu pasti buku yang hebat! Tidak heran kalau sampai menyimpannya dengan rapat.” Si lelaki mengangguk-angguk.” Omong-omong, dimana kau mendapat buku itu?”

“Di toko sepatu.”

Sumber : 101 Kisah Nasruddin Hoja

Berpikir positif

Posted: October 16, 2011 in motivasi

Yang membedakan  antara orang yang optimis dan yang pesimis adalah cara pandang mereka terhadap suatu masalah. Orang yang optimis, ketika dihadapkan kepada sebuah masalah ia akan berkata,” Ini sulit, tapi mungkin.” Dan itu akan memberikan energi positif untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sedangkan bagi mereka yang pesimis, ketika berhadapan dengan suatu masalah ia akan berkata,” Ini mungkin, tapi sulit.” Di sini ia lebih memfokuskan pikirannya pada kesulitannya, bukan memfokuskan pikirannya pada kemungkinannya. Dan inilah yang menghasilkan energi negatif.

Bila kita bahwa energi positif dan negatif itu berasal dari pikiran. Pikiranlah yang membuat perintah kepada seluruh organ tubuh untuk melakukan sesuatu. Pikiranlah yang mempengaruhi perasaan dan kekuatan manusia untuk berani atau takut dalam mengambil keputusan. Jadi yang harus diperhatikan adalah bagaimana kita mengelola pikiran.

Orang yang belajar bersepeda, ketika ia berpikir tidak bisa naik sepeda, maka selamanya ia tidak akan bisa naik sepeda. Ketika ia berpikir takut jatuh, ia pun akan dihantui tentang jatuh yang menyebabkan ia takut belajar. Sebaliknya, orang yang memberanikan diri mengambil resiko terjatuh, akan menimbulakan keberanian yang besar  yang pada akhirnya akan mempengaruhi keseimbangan tubuhnya sehingga ia dapat bersepeda dengan baik. Keberanian yang muncul dari cara mengelola pikiran inilah yang membantu seseorang belajar melakukan sesuatu secara baik.

Tidak bisa dipungkiri bahwa hidup ini memang mengenai cara pandang, tentang bagaiman respon kita  dalam menghadapi berbagai persoalan. Cara pandang kita terhadap berbagai persoalan hidup akan menentukan sikap dan perasaan kita selanjutnya.

Mari kita rubah cara pandang kita dan perbaiki cara mengelola pikiran kita agar kita tidak pernah takut untuk menghadapi persoalan. Jika kita melihat sesuatu dengan positif, maka semuanya akan terlihat baik. Sebaliknya, jika kita melihat sesuatu dengan negatif, maka semua yang tampak adalah kejelekan.

Kisah Penghuni Surga

Posted: October 16, 2011 in Catatan Dakwah

Suatu ketika Rasulullah duduk di masjid diantara para sahabatnya yang menunggu waktu shalat. Tiba-tiba Rasulullah berkata,”Sebentar lagi seorang penghuni surga akan masuk.” Semua mata tertuju ke pintu masjid dan membayangkan seseorang yang luar biasa.

Tidak berapa lama kemudian, masuklah seorang yang dimaksudkanoleh Rasulullah. Ia sangat sederhana. Air wudhunya masih membasahi wajahnya. Tangannya menjinjing sepasang alas kaki.

Keesokan harinya peristiwa itu terulang kembali. Nabi kembali berkata,” Sebentar lagi seorang penghuni surga akan masuk.” Orang yang sama kembali memasuki masjid dengan keadaan yang sama pula. Peristiwa ini berulang samapai tiga hari berturut-turut.

Abdullah Ibn ‘Amr tidak tahan lagi. Meskipun ia tidak berani bertanya langsung, baik kepada Rasulullah maupun kepada orang itu, ia mendatangi rumah “si penghuni surga” sambil berkata,” Saudaraku, telah terjadi kesalahpahaman antara aku dengan orang tuaku, bolehkah akau bermalam di rumah Anda selama tiga hari?” Tentu, tentu…,” jawab si penghuni surga.

Tiga hari tiga malam ia memperhatikan, mengamati, bahkan mengintip kegiatan si penghuni surga. Tetapi, tidak ada sesuatu pun yang istimewa. Tidak ada ibadah khusus yang dilakukan si penghuni surga. Tidak ada shalat malam, tidak ada puasa sunnah. Ia bahkan tidur nyenyak sepulang shaat Isya di masjid sampai beberapa saat sebelum fajar (waktu subuh). Dalam tidurnya, sesekali ia terbangun. Terdengar ia menyebut nama Allah di pembaringannya, tetapi sejenak saja, kemudian tidurnya berlanjut. Pada siang hari, penghuni surga itu bekerja keras di pasar sebagai pedagang seperti pedagang lainnya.

Akhirya pada hari ketiga, Abdullah berterus terang tentang apa yang selama ini dicarinya. Ia bertanya,” Apakah sesungguhnya yang Anda lakukan hingga Anda mendapat jaminan sebagai penghuni surga dari Rasulullah Saw?” “ Apa yang Anda lihat, itulah yang terjadi.” Jawab si penghuni surga. Abdullah masih penasaran, dalam benaknya ia bergumam,” Pasti ada sesuatu yang disembunyikan atau tidak terlihat.” Dengan kecewa Abdullahbermaksud pamit. Tiba-tiba tangannya dipegang oleh si penghuni surga seraya berkata,” Apa yang Anda lihat, itulah yang saya lakukan, ditambah sedikit lagi, yaitu saya tidak pernah merasa iri hati terhadap seseorang yang dianugerahi nikmat oleh Allah dan saya tidak pernah melakukan kebohongan dalam semua kegiatan yang saya lakukan.”

Dengan menundukkan kepala Abdullah Ibnu ‘Amr meninggalkan si penghuni surga sambil berkata,” Rupanya hal yang demikian itulah yang menjadikan Anda mendapat jaminan surga.”